welcome

welcome di website pribadi ALFI ASYURA
zwani.com myspace graphic comments




e-mail : alfi_aja1989@yahoo.co.id atau alfi.asyura@gmail.com
friendster : alfi89@gmail.com




anda boleh membaca blog ini dan mengcopy nya..selamat membaca..

Senin, 20 September 2010

SITUASI SOSIAL YANG MEMPENGARUHI TINGKAH LAKU MANUSIA



1. Situasi Sosial

Situasi sosial adalah suatu kondisi tertentu dimana berlangsung hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain atau terjadi saling hubungan antara dua individu atau lebih.
Hubungan yang terjadi antara individu tersebut tidak terlepas dari rangsangan-rangsangan sosial. Secara garis besar perangsang sosial tersebut terbagi menjadi dua yaitu :

1. Orang lain, terdiri dari :

a. Individu-individu lain sebagai perangsang.
b. Kelompok, Kelompok ini dapat dibedakan atas :

• Hubungan intragroup : hubungan antara individu lain dalam kelompok lain atau antara kelompok dengan kelompok

• Hubungan intergroup : hubungan individu dengan kelompok lain dalam kelompok itu sendiri.
2. Hasil kebudayaan ( materi dan non materi)
Contohnya : bangunan rumah, perkakas, candi hasil ukiran, bahasa, seni, musik norma dan lain-lain.

Situasi sosial ini dibedakan kepada Togetherness Situation (situasi kebersamaan) dan Group Situation atau situasi kelompok.
Togetherness Situation adalah situasi dimana sejumlah individu berkumpul pada suatu tempat dan pada waktu tertentu.

Ciri-cirinya :
• Sejumlah orang berkumpul
• Mempunyai kepentingan yang sama
• Pada tempat tertentu
• Bersifat sementara waktu
• Tidak memiliki ikatan diantara suatu individu dengan individu yang lain
Contonya : sejumlah orang berbelanja di toko, pasar, bioskop dll.

Terakadang situasi kebersamaan ini bisa saja berubah menjadi situasi massa. Yaitu situasi dimana tingkah laku kelompok timbul secara spontan, relatif tidak terorganisasi, tidak terduga dan tidak terencana dalam arah perkembanganya dan terjadi saling pengaruh antara individu dengan individu lain. Dalam situasi massa ini para pelakunya merasa memiliki kedudukan yang sama, tidak ada perbedaan diantara mereka.
Contoh :
Penonton sepak bola yang gelisah dan kecewa melihat wasit berat sebelah (curang). Sehingga akan menimbul kemarahan dari para penonton. Para penonton akan berteriak-teriak. Melemparkan kata-kata kotor bahkan sampai melempar wasit dengan sandal. Move ini akhirnya menggerakkan penonton untuk bersatu dan memperlihatkan rasa marah kepada wasit.

2. Kenyataan Sosial

Kenyataan sosial terbagi kepada dua macam yaitu :
a. Social Things (benda-benda sosial)
Nilai dari sosial things ini ditentukan oleh beberapa faktor yaitu : kebutuhan, minat dan keprcayaan. Jadi suatu barang atau benda akan bernilai tinggi jika memenuhi syarat-syarat tersebut.

b. Social Fact (kenyataan sosial)
Kenyataan sosial ini biasanya akan menimbulkan sikap yang berbeda-beda pada masing-masing individu. Sebagai contoh kenyataan sosial seperti yang berhubungan dengan hak, pinjam meminjam, kontrak kerja dan sebagainya. Seseorang dapat saja memiliki sebidang tanah misalnya, tanpa adanya peran orang lain atau tanpa harus ada pihak ke dua. Tetapi dalam hal jual beli, kontrak kerja hanya dapat terjadi bila terdapat lebih dari satu orang dengan arti ada harus ada pihak kedua.
Suatu pekerjaan yang awalnya hanya kenyataan individual, tetapi seiring berjalanya waktu produktifitas pekerjaan tersebut meningkat dan hasilnya cukup menjanjikan, sehingga lama kelamaan banyak orang yang menginginkan pekerjaan tesebut dengan sendirinya kenyataan yang tadinya individual berubah menjadi kenyataan sosial.
Dalam kehidupan sosial selalu ada hubungan timbal balik, sehingga suatu ketika jawaban (respon) akan menjadi perangsang (stimulus) terhadap kehidupan sosial. Dengan kata lain setiap perbuatan yang dilakukan oleh individu lain akan menimbulkan perbuatan lain lagi dan seterusnya.
Secara umum bisa dikatakan setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang adalah sosial. Sebab pekerjaan tersebut selalu menimbulkan respon terhadap orang lain. Jika kita lanjutkan pembicaraan tentang individu, individu selau dan mesti berhubungan dengan lingkungan. Hubungan antara individu tersebut sering berupa adaptasi. Yaitu manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan. Baik secara pasif atau aktif. Atau berupa Autoplastis (mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan) dan Aloplastis mengubah lingkungan sesuai keadaan (keinginan) diri.
Sebagai contoh adalah ketika melihat suatu tindakan orang lain baik itu buruk ataupun baik, maka timbullah reaksi atau keinginan dari diri kita untuk melakukan sesuatu.

3. Proses Sosialisasi
Zajonc mengatakan bahwa dengan orang yang baru atau yang belum di kenal , faktor yang memudahkan komunikasi adalah pertemuan yang berulang-ulang , sejauh reaksi pada saaat kali pertama bertemu tidak terlalu negatif.
Interaksi adalah masalah yang paling unik yanng timbul dalam diri manusia, interaksi timbul dari berbagai macam hal yang merupakan dasar dari peristiwa sosial yang lebih luas, pada dasarnya kejadian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat di sebabkan interaksi yag terjaedi antara individu dengan individu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap orang adalah sumber dan pusat psikologis yang berlangsung pada kehidupan.
Perasaan pemikiran dan keinginan ada pada tiap-tiap seseorang tidak hanya sebagai tenaga yang bisa menegakkan individu itu sendiri, melainkan merupakan dasar pula bagi aktivitas psikoligi dari orang lain, dan semua proses sosialisasi baik yang bersipafat operatiaon, coorporation adalah hasil daripada interaksi individu.
Interaksi inidapat dibedakan kepada dua macam:

a. Interaksi antara benda-benda, bersifat statis, memberi respons terhadap tindakan-tindakan kita, bukan terhadap kita dan timbulnya hanya pada satu pihak saja yaitu pada orang yang melakukan perbuatan itu.

b. Interaksi antara manusia dengan manusia ,bersifat dinamis memberi respons tertentu pada manusia lain; dan proses kejiwaan yang timbul terdapat pada gejala pihak yang bersangkutan.

Misalnya: ketika kita melihat seseorang menangis kita bisa mengetahui bahwa seseorang itu dalam keadaan susah atau sedang bersedih, maka dalam hal ini timbullah suatu ajaran yang terkenal dengfan Inference Doctrine.
Menurut ajaran Inference Doctrine tiap orang mengalami dan mempuyai pengalam dan kesadaran dalam kehiduapan dan mewujudkan pemikiran, perasaan kemauan dan sebagainya, menurut teori Inference Doctrine, orang bisa mengetahui fakta kesabaran itu disebabkan karena orang mengadakan penarik kongklusi dari pengalamannya pada dirinya sendiri, misalnya ketika kita mengalami emosi tertentu maka emosi tertentu akan mengalami perubahan terhadap gerakan-gerakan jasmani tertentu, akhirnya kita merasakan sebuah kondisi tertentu dalam diri kita sdeperti takut senang, marah dan lain sebagainya.

Disamping teori ini masih ada teori lain seperti Stimulus Response Theory, yang berpokok pangkal sama dengan ajaran yang pertama, yaitu keduanya berpendapat bahwa apa yang dapat kita amati dari orang lain hanyalah mengenai fakta-fakta psikis.
Kelemahan-kelemahan terhadap Inference Doctrine

a. Dalam kenyataannya kita sering mengetahui psikologis orang lain secara langsung tanpa melakaukan inferennce.

b. Inference Doctrine menganggab bahwa kita mengamati kejadian dalam diri kita sendiri dengan cara seperti pengamatan pada orang lain.
c. Bila kita bersendi pada ajaran Interference Doctrine ini, maka kita tidak mungkin bisa menangkap pengalaman orang lain yangbelum pernah kita alami, juga kita tidak mungkin menangkap pengalaman orang lain yang jauh berbeda dengan kita.

4. Situasi Kelompok Sosial
Bila seorang individu berada dalam ikatan masa (crowd) maka ia akan merasa, berfikir dan bertingkah laku yang berbeda dengan apabila individu itu dalam keadaan sendirian atau terpisah dari orang lain, jadi seolah-olah dalam jiwa individu itu terdapat dua jiwa yaitu:

1. Jiwa individual yaitu jiwa yang terdapat dalam diri individu dalam keadaan sendirian atauperorangan.

2. Jiwa masa, yaitu jiwa yang timbul dalam situasi massa.
Menurut Gustave Le Bon timbulnya jiwa massa ini didorong oleh ada sugesti dari pemimpin atau antusias atau situasi yang merupakan mucul dalam kerumunan massa, individu yang terkena sugesti ini ia akan menuruti semua perintah-perintah dari pemimpinnya meskipun terkadan perintah tersebut bersifat irrasional dan tidak masuk akal sedikitpun, dalam segi negatifnya yang lebih luas individu dalam kerumunan massa itu akan lebih mudah terprovokasi dan berubah menjadi liar dan brutal, mudah terbawa emosi sentimental dan kurang rasional.
Oleh karena itu ada pihak luar yang menjadi pihak ketiga yang menyalah gunakan situasi seperti kegiatan masa, seperti memprovokasi memberikan hal-hal yang negatif atau memburuk-burukkan pihak lain, Sidmud Freud seolah mengatakan bahwa jiwa massa itu seakan-akan telah dikendalikan dan hanya memiliki ciri-ciri yang negatif saja.
Secara konsepnya tidak hanya ransangan negatif saja yang terdapat dalam psikologi masa, ada sisi positif yang bisa diterima hanya terkadang individu kurang mampu membedakan mana yang positif dan mana yang negatif, misalnya masa yang beramai-ramai menolong kebakaran, bencana alam, kecelakaan lalulintas.
Prof.Baschowitz mengartakan bahwa:
Masa yang terdiridari orang-orang normal kemungkinan melakukan kejahatan masa akan sangat sedikit sekali hanya orang-orang yang rendah wataknya yang kebetulan ikut andil dalam masa itu, itulah yang melakukan kejahatan-kejahatan dan jiwa mereka disebabkan karena keadaaan keadaan yang luar biasa, mendapat kesempatan untuk melakukan kejahatan-kejahatan.
Antara Gustave Le Bon dan Baschowitz ada perbedaan pendapat yang sifatnya saling melengkapi, kadang-kadang masa itu negatif, kadang-kadang positif, ini tidak berarti bahwa sesuatu itu berjalan secara otomatis tetapi pengaruh yang datang itu positif memiliki kemungkinan besar menjadi positif dan begitu juga sebaliknya.

5. Ciri-Ciri dan Peranan Situasi Kelompok Sosial Terhadap Individu dan Sebaliknya

1. Eksperimen Situasi Kebersamaan F.H Allport (1916-1919)
Toghetherness Situatiaon atau situasi kebersamaan itu sudah dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, sehinnga seseorang individu yang berada dalam situasi bersama akan menjadi lain dibandingkan situasi ketika ia sendirian.
Eksperimen terhadap situasi kebersamaan ini dilakukan terhadap mahasiswa dan mahasiswa yang diminta untuk menyatakan pendapatnya tentang rangsangan-rangsagan tersendiri atas cairan-cairan dalam botol yang mempunyai bermacam-macam baunya, yaitu 10 variasi dari cairan yang bau sekali sampai kepada yang harum.
Alport menempuh beberapa cara dalam permainan eksperimen itu sehingga hasillah sebuah kesimpulan baginya, menurut hasil percobaan pada umumnya adalah bahwa penilainan yang diadakan dalam kebersamaan itu kurang ekstrem dari penilaian orang yang sama juga, tetapi dalam keadaan sendirian bisa saja berubah, jadi dalam eksperimen ini ternyata bahwa situasi kebersamaan itu pasa dirinya sendiri mempunyai akibat menghilangkan penilaian-penilaian yang ekstrem pada orang-orang yang turutserta dalam keadaan kebersamaan itu.
Seakan-akan orang yang berada dalam situasi kebersamaan itu tidak mau berbeda terlampau banyak dalam penilaiannya antara yang satu dengan yang lainya.
Dari ekperimen yang dilakukan Allport ternyata situasi sosial pada diri sendiri sudah mempunyai pengaruh tertentu terhadap kegiatan-kegiatan individu dibandingkan dengan kegiatan –kegiatan yang sama apabila dalam keadaan sendirian, yaitu situasi kebersamaan mempunyai pengaruh.

2. Eksperimen Rosenbaum Dan Blake
Eksperimen ini dilakuakan untuk menyelidiki akibat dari suatu sikap dan tingkah laku yang dinyatakan oleh seseorang didalam keadaan kebersamaan terhdap sikap dan tingkah laku orang lain di dalam keadaaan tersebut apabila menghadapi persoalanyang sama eksperimen ini dilakukan di dalam ruang baca aau ruang kerja Perpustakaan Universitas.

Hasil eksperimen ini menunjukkan denga jelas dan cukup pasti, bahwa pengaruh contoh pembantu dalam keadaan kebersamaan itu memang besar sekali, lebih dari 80% dari orang yang dicoba mengaami mengimitasi contoh yang di berikan dalam bentuk tingkah laku, maka dapat disimpulkan hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh Rosenbaum dan Blake ini bahwa:

Dalam keadaan kebersmaan itu orang-orang mudah mengimitasi sebuah contoh (atau mudah terpengaruh oleh sugesti berdasarkan contoh), ternyata situasi toghederness itu , sebagai bentuk dari situasi sosial, dan sikap keragu-raguan individu mengenai apa yang harus ia lakukan, sangat menudahkan terjadinya imitasi dan sugesti terhadap tingkah laku orang dalam keadaan sama.

3. Eksperimen Asch

Dalam eksperimen ini akan nyata peranan sugesti dalam situasi sosial pada umumnya dan situasi kebersamaan pada khususnya, hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh Asch terjadi pemberian sugesti yang slah terhadap peserta minoritas itu ditertawakan, sedangakan apabila sugesti tersebut diberikan oleh mayoritas itu malah di ikuti. Dari eksperimen Asch ternyata bahwa pengaruh sugesti (mayoritas) terhadap penilaian individu dalam keadaan kebersamaan itu besar apabila individu ragu-ragu dalam penilaianannya. Sugesti mayoritas tidak berpengaruh apabila individu dengan jelas mengetahui apa yang harus ia lakukan, pengaruh sugesti (mayoritas) dalam eksperimen Asch akan diperkecil apabila terdapat pula sugesti minoritas yang berlawanan dengan sugesti mayoritas dalam keadaan yang sama.